Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

HARAPAN DI DALAM TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup


"Empat orang yang sakit kusta ada di depan pintu gerbang. Berkatalah yang seorang kepada yang lain: 'Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati?'" 2 Raja-Raja 7:3

Kota Samaria telah diasingkan dan dikepung tentara-tentara Aram. Tentara Aram mengisolasi kota, memutuskan jalur distribusi makanan dan hubungannya dengan dunia luar. Akibatnya kelaparan terjadi di mana-mana. Kematian mengancam semua orang, kaya maupun miskin.

Nabi Elisa menubuatkan, "Besok kira-kira waktu ini sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria." (2 Raja-Raja 7:1). Tetapi salah seorang perwira raja mencemooh nubuatannya, namun Elisa pun menimpalinya, "Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan apa-apa dari padanya." (2 Raja-Raja 7:2). Di situ ada empat orang yang sakit kusta yang tidak mendengar nubuatan Elisa karena mereka tingggal di luar kota (di depan pintu gerbang). Yang mereka tahu hanyalah bencana kelaparan, maka berkatalah mereka satu sama lain, "Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati? Jika kita berkata: Baiklah kita masuk ke kota, padahal dalam kota ada kelaparan, kita akan mati di sana. Dan jika kita tinggal di sini, kita akan mati juga. Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan tentara Aram. Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup, dan jika mereka mematikan kita, kita akan mati." (2 Raja-Raja 7:3, 4). Dalam situasi yang tiada pengharapan lagi mereka mengambil tindakan berani: masuk perkemahan tentara Aram. Perkara ajaib terjadi: oleh karena Tuhan, dibuatnya tentara Aram lari tunggang langgang meninggalkan kemahnya dan segala perbekalannya. Singkat cerita, keempat orang ini melaporkan kejadian ini kepada raja. Akhirnya orang-orang Samaria pun beroleh jarahan yang banyak di tengah kelaparan. Sedangkan perwira raja yang meremehkan perkataan Elisa harus menanggung akibatnya, dia mati terinjak-injak.

Seberat apa pun pergumulan kita, asal kita datang kepada Tuhan dan memohon belas kasihanNya, pertolongan pasti disediakan Tuhan bagi kita. Kuncinya adalah percaya dan bertindak dengan iman. Tertulis: "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2:17). Jika keempat orang kusta itu hanya duduk-duduk dan menyerah pada keadaan, mereka pasti akan mati kelaparan!

Jangan menyerah kepada keadaan, bangkit dan percayalah kepada Tuhan, karena tidak ada perkara yang mustahil bagi Dia!

MELUPAKAN MASA LALU


Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Desember 2012 -

Baca: Kejadian 41:37-57

"Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku. ... Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku." Kejadian 41:51, 52

Sangatlah bagus jika kita memiliki ingatan yang kuat, terlebih-lebih ingatan akan kebaikan Tuhan dalam hidup ini dan kemudian bersyukur kepadaNya. Kemampuan mengingat kembali apa yang telah kita alami atau pelajari di masa lalu dapat bermanfaat bagi kita di kemudian hari. Akan tetapi, ada waktu di mana lebih baik bagi kita tidak mengingat hal-hal di masa lalu.

Hal-hal bagaimana yang tidak perlu kita ingat? Yaitu hal-hal yang dapat melukai hati kita. Setiap kita pasti pernah mengalami situasi atau keadaan yang menyakitkan dan menyinggung perasaan, bahkan ada orang membenci kita tanpa alasan. Hasil dari luka-luka dan penolakan seperti itu dapat melekat pada diri kita seumur hidup kita, kecuali kita memilih untuk melupakannya. Banyak orang yang mengingat terus-menerus insiden yang pernah terjadi dalam hidupnya. Meski itu terjadi di masa lampau, tetap saja bisa mempengaruhi keadaan mental atau pikiran seseorang di masa sekarang. Namun sebagai anak-anak Tuhan kita harus belajar hidup sama seperti Kristus yaitu mengampuni dan melupakan. Dengan mendasarkan harapan kepada Kristus dan bukan kepada manusia, kita akan mampu melupakan setiap pengalaman buruk yang telah kita alami. Yusuf adalah contoh dari manusia yang diberkati karena dia memilih untuk melupakan apa yang pernah dideritanya. Yusuf dijual ke dalam perbudakan oleh saudara-saudaranya sendiri (human trafficking), dan dijebloskan ke dalam penjara karena tuduhan palsu. Jika ada orang yang memiliki alasan kuat untuk depresi, getir dan pahit hati, Yusuflah itu. NamunYusuf tidak melakukannya, ia tidak membiarkan hatinya terisi dengan kemarahan dan kepahitan. Yusuf tetap memiliki sikap hati yang benar dan selalu melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan, sehingga apa pun yang Yusuf kerjakan menjadi berhsil, karena "...Tuhan menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya," (Kejadian 39:21).

Memang tidak mudah melupakan peristiwa pahit di masa lampau, apalagi mengampuni orang-orang yang membuat kita menderita. Namun asal kita melekat kepada Tuhan dan menyerahkan beban ini kepadaNya, kita pasti sanggup melakukannya karena Roh Kudus yang memberi kekuatan.

Di tengah penderitaannya, Yusuf hidup tak bercela di hadapan Tuhan dan memilih untuk melupakan segala hal buruk yang terjadi atasnya di masa lalu.

DIA TAHU YANG TERBAIK BAGI KITA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Desember 2012 -
Baca: Yesaya 64:1-12

"Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian." Yesaya 64:4


Sesungguhnya tiada mata yang tidak pernah melihat hal luar biasa yang telah Tuhan sediakan bagi mereka yang menanti-nantikan Dia. Kita hanya perlu menanti-nantikan Dia, maka Ia akan menyatakan kepada kita apa pun yang tak dapat dipahami manusia. Mengapa menanti-nantikan? Karena tidak semua hal dapat diketahui manusia, sebab: "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini." (Ulangan 29:29).

Banyak orang yang mempelajari Alkitab percaya bahwa mereka akan bisa memperoleh kehidupan yang kekal. Tetapi jika mereka tidak datang kepada Yesus dan percaya kepadaNya, maka sebanyak apapun pengetahuan akan firman yang telah mereka dapatkan akan menjadi sia-sia belaka. Yesus berkata, "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu." (Yohanes 5:39-40). Jika kita ingin diselamatkan dan memiliki hidup yang kekal hanya ada satu pilihan, yaitu harus datang kepada Yesus, karena "...keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12). Dengan memiliki yesus, maka kita akan mendapatkan segala hal yang kita butuhkan, sebab "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b).

Jika kita sedang dalam masalah, apapun bentuknya, jangan ragu datang kepada Tuhan dan berserah penuh kepadaNya, maka kita akan beroleh jawaban dan kelepasan, karena Dia tahu yang terbaik bagi umatNya. Oleh karena itu tetap nanti-nantikan Tuhan! Mari kerjakan bagian kita yaitu menaati firman Tuhan, dan Tuhan akan mengerjakan bagianNya yaitu memberkati dan menolong kita karena Dia tahu yang terbaik bagi umatNya.

"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." 1 Korintus 2:9

Jumat, 29 November 2013

JANGAN MENABUR RUMPUT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: Mazmur 129:1-8

"Mereka seperti rumput di atas sotoh, yang menjadi layu, sebelum dicabut," Mazmur 129:6

Orang Kristen seringkali menggunakan prinsip ekonomi dalam menabur yaitu inginnya menabur sesedikit mungkin tapi mengharapkan tuaian yang sebesar-besarnya. Ada juga yang tidak ingin menabur atau memberi, maunya hanya menerima saja. Itu adalah cara pikir duniawi yang berbeda dengan prinsip firman Tuhan. "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Artinya siapa menabur sedikit akan menuai sedikit dan yang menabur banyak akan menuai banyak pula. Orang yang menabur banyak tidak akan mengalami kerugian atau hidup dalam kekurangan, apalagi kalau untuk tuaian yang bersifat kekal. "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum." (Amsal 11:24-25).

Orang yang menabur sedikit tapi ingin menuai banyak itu sama halnya dengan menabur benih rumput. Rumput memiliki ciri mudah layu, mudah dicabut, kering, tidak tahan cuaca dan tidak memiliki banyak kegunaan. Apabila rumput sudah kering tidak ada alternatif lain selain dibakar dalam nyala api. Memang, sedikit benih rumput pada saatnya akan menuai padang rumput dan bunga-bunganya, namun Alkitab menegaskan bahwa semuanya tidak bisa bertahan lama, ia akan kering dan layu, "Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya." (Yesaya 40:8).

Mana yang Saudar pilih? Menabur sedikit, ala kadarnya dan hasil tuaiannya pun tidak berguna, atau kita mau menabur banyak dengan benih berkualitas disertai motivasi yang benar dan menghasilkan tuaian yang berlipatkali ganda? Mari menabur benih yang baik dan berkualitas baik dalam pelayanan maupun kehidupan sehari-hari. Jangan sampai waktu dan kesempatan terlewatkan begitu saja. Berkat materi yang kita miliki pun jangan sampai menjadi penghalang bagi kita untuk lebih banyak menabur!

Taburlah benih yang baik dan berkualitas untuk Tuhan dan juga sesama, maka tuaian besar menanti kita!

KESEMPATAN ADALAH BERKAT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: Amsal 20:1-30

"Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa." Amsal 20:4
Ada dua kata bijak yang menyatakan bahwa kesempatan itu tidak datang untuk keduakalinya. Ini menunjukkan bahwa kesempatan begitu sangat berharga. Maka kita harus mempergunakan setiap kesempatan yang ada sebaik mungkin. Mengapa? Karena waktu terus melaju dan kita tidak bisa memutarnya kembali. Selagi musim menabur tiba gunakan kesempatan untuk menabur, supaya ketika musim menuai datang kita pun mendapatkan tuaian seperti yang diharapkan.

Salomo mengingatkan agar kita tidak mudah membuang-buang waktu atau kesempatan yang ada, karena orang yang suka membuang-buang waktu identik dengan orang yang malas, yang kesukaannya menunda-nunda mengerjakan suatu hal yang seharusnya bisa segera diselesaikan. Kita perlu belajar dari semut! "...pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen." (Amsal 6:6-8). Jadi waktu dan kesempatan adalah berkat dari Tuhan yang tak ternilai harganya bagi kita. Waktu itu bisa pagi, siang, petang, bahkan pada malam hari. Ratapan 3:22-23 menulis: "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" Ketika di padang gurun bangsa Israel menikmati berkat Tuhan berupa manna atau roti dari sorga setiap pagi sehingga mereka tidak mengalami kelaparan. "Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu." (Keluaran 16:15), dan pada waktu petang Tuhan mengirimkan burung puyuh kepada mereka.

Pemazmur berkata, "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." (Mazmur 127:2). Pada malam hari, bahkan ketika kita tidur pun Tuhan menyediakan berkatNya. Artinya di setiap waktu dan kesempatan selalu ada berkat Tuhan tersedia bagi kita.

Mulai sekarang gunakan setiap kesempatan yang Tuhan beri sebaik mungkin jika kita rindu berkat-berkatNya dicurahkan atas hidup kita.

BUKTI MENGASIHI SESAMA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: Yakobus 2:1-13

"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik." Yakobus 2:8
Definisi dari kasih adalah bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dengan memberikan PuteraNya, Yesus Kristus, datang ke dunia dan mati di atas Kalvari sebagai perdamaian bagi dosa-dosa kita (baca 1 Yohanes 4:10). Karena kasihNya, dosa-dosa kita diampuni, dan kita pun beroleh keselamatan. Setiap orang percaya yang telah menerima kasih Allah ini jugalah yang beroleh kuasa untuk mengasihi sesamanya. Kasih adalah karakter Allah sendiri yang mengalir ke dalam hati orang percaya sehingga kita beroleh kesanggupan untuk mengasihi orang lain. Jadi kasih itu bukan berasal dari diri kita sendiri, tapi berasal dari kasih Allah; dan "...jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi." (1 Yohanes 4:11). Kita yang sudah menerima kasih dari Allah wajib dan harus membagikannya kepada sesama sesuai dengan hati Allah. Karena itu kasih harus merupakan life stylekita.

Kita dikatakan telah mempraktekkan kasih Tuhan kepada sesama apabila di dalam hati kita tidak ada kebencian. "Jikalau seorang berkata: 'Aku mengasihi Allah,' dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya." (1 Yohanes 4:20). Kebencian dan kasih merupakan dua hal yang sangat bertolak belakang. Mustahil kita mengatakan mengasihi Tuhan jika dalam praktek sehari-hari kita masih membenci orang lain; jika demikian kita disebut pendusta. Mengasihi sesama juga berarti tidak mudah menghakimi orang lain (baca Matius 7:1-2): menghakimi berarti tidak melihat keadaan diri sendiri, namun cenderung melihat kehidupan orang lain dengan penuh kritikan. Hanya kasih Tuhan sanggup menolong kita untuk tidak menghakimi orang lain.

Bukti lain bahwa kita mengasihi orang lain adalah ketika kita tidak berbuat jahat, melainkan selalu berbuat baik kepada sesama kita. Ketika kita memiliki kasih Yesus kita diberikan kesanggupan untuk berbuat baik, karena orang Kristen haruslah memiliki kehidupan yang meneladani Kristus dalam segala aspek kehidupan ini. Kasih itu tidak berpura-pura menjadi baik!


Mengasihi sesama berarti tidak ada kebencian, tidak menghakimi dan selalu berbuat kebaikan!

PENGHALANG KASIH KEPADA SESAMA





Disadur dari Renungan Harian Air Hidup
Baca: 1 Korintus 13:1-13

"Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing." 1 Korintus 13:1


Banyak hal dalam hidup ini yang acapkali menghalangi kita untuk berbuat kasih kepada orang lain. Ada saja ganjalan yang membuat kita tidak bebas mengasihi sesama kita. Untuk dapat menyatakan kasih dengan benar kepada sesama, hati kita harus terlebih dahulu terbebas dari kepentingan diri sendiri, ambisi, motivasi yang keliru, iri hati, kebencian dan sebagainya. Jika di dalam diri kita masih terselip adanya kepentingan diri sendiri, mustahil kita dapat mengasihi orang lain dengan tulus, sampai kapan pun kasih itu tidak akan pernah sampai. Ketika kita hanya berfokus pada diri sendiri, memikirkan dan memperhatikan kepentingan sendiri, saat itu pula kepentingan orang lain pasti akan kita abaikan dan korbankan. Dalam keadaan yang demikian kasih kita kepada sesama akan dingin dan mati.

Rasul Paulus memperingatkan, "...hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:2-4). Sifat mementingkan diri sendiri identik dengan keangkuhan atau kesombongan, di mana seseorang merasa tidak membutuhkan orang lain sehingga memandang rendah orang lain. Sikap ini akan menghalangi hubungan kita dengan orang lain.

Sifat mementingkan diri sendiri, kesombongan, keangkuhan, kecongkakan bukan berasal dari Tuhan, melainkan tabiat khas dari si Iblis, selain adanya ambisi tertentu dari manusia. Ambisi adalah keinginan yang mendorong seseorang menggunakan segala cara untuk mewujudkan keinginannya. Ambisi semacam ini adalah ambisi yang keliru dan bersifat negatif, adakalanya berkaitan dengan kekuasaan atau jabatan yang seringkali menggiurkan banyak orang, yang akhirnya membuat orang bersaing secara tidak sehat dengan saling menjegal dan menjatuhkan.

Dalam kondisi seperti ini mustahil orang bisa mengasihi orang lain.

TUHAN YESUS SEBAGAI BATU PENJURU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: 1 Petrus 2:1-10

"Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." 1 Petrus 2:6
Rasul Petrus menegaskan bahwa Yesus disebut sebagai batu yang terpilih dan merupakan batu penjuru yang mahal, sehingga barangsiapa percaya kepadaNya tidak akan dipermalukan (ayat nas).

Mengapa Tuhan Yesus disebut sebagai batu pilihan? Karena Dia telah dipilih secara khusus oleh Allah dan ditentukan sebagai pondasi kehidupan serta dasar keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Tertulis: "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12). Jadi, "...jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan." (Roma 10:9). Hal ini menunjukkan bahwa "...tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." (1 Korintus 3:11).

Batu penjuru adalah batu yang menentukan arah sebuah bangunan, batu yang pertama kali diletakkan yang menjadi patokan pembangunan. Sebagai batu penjuru Tuhan Yesus adalah pusat dari segala aspek kehidupan kita; Dia adalah batu yang menentukan arah kehidupan kita. Karena itu kita harus menjadikan Tuhan Yesus sebagai prioritas dan tujuan hidup kita karena Dia adalah Pemegang kendali hidup kita; artinya Dia harus menjadi pusat dan tujuan hidup kita karena Dia adalah Alfa dan Omega, "...yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." (Wahyu 1:8). Dialah yang mengawali seluruh kehidupan ini dan juga yang menjadi tujuan akhir dari kehidupan ini. Seluruh keberadaan hidup kita pada hakekatnya menuju ke arah Yesus. Jika kita mengaku sebagai orang Kristen tapi tidak mengarahkan hidup sepenuhnya kepada Yesus sama artinya kita sedang berusaha melepaskan diri dari bangunan tersebut. Yesus menegaskan, "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar." (Yohanes 15:5b-6).

BATU HIDUP atau BATU MATI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: 1 Petrus 2:1-10

"Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan." 1 Petrus 2:8

Keberadaan orang percaya digambarkan sebagai batu-batu hidup yang dipergunakan untuk pembangunan rumah rohani. Dengan demikian setiap kita memiliki peran dan fungsi. Tertulis: "...kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib; kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan." (1 Petrus 2:9-10).

Menjadi batu yang hidup berarti memiliki kehidupan yang berpadanan dengan panggilan Tuhan. "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Jadi, "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16). Hidup di dalam kekudusan berarti tidak "...menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran." (Roma 6:13).

Sebaliknya jika kita tetap hidup dalam ketidaktaatan dan ketidaksetiaan dalam melakukan kehendak Tuhan dan memiliki gaya hidup yang duniawi, maka keberadaan kita sama seperti batu-batu yang mati. Artinya kita telah gagal dalam menjalankan peran dan fungsi kita sebagai anak-anak Tuhan. Kita tidak lagi mencerminkan umat tebusan Tuhan dan imamat yang rajani, melainkan telah menjadi batu sandungan bagi orang lain, apalagi jika saat dalam masalah dan penderitaan kita mengeluh, bersungut-sungut, mengumpat, ikut-ikutan mencari pertolongan kepada dunia, mata rohani tidak lagi tertuju kepada Tuhan Yesus, selaku Batu Penjuru kita, sehingga orang-orang dunia pun tidak melihat Kristus ada di dalam kita.

Kita menjadi batu-batu yang mati!

HARGA SEBUAH PENANTIAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: Matius 7:7-11

"Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." Matius 7:8

Saat ini masih ada orang Kristen yang bermalas-malasan membaca Alkitab. Mereka membaca Alkitab hanya saat beribadah saja, sedangkan di luar jam-jam itu Alkitab sama sekali tidak disentuhnya. Itu adalah kerugian besar! Pemazmur menegaskan bahwa "...yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:2-3). Begitu juga pesan Tuhan kepada Yosua, "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Itulah sebabnya Daud pun berkata, "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari." (Mazmur 119:97). Jadi membaca dan merenungkan firman Tuhan serta melakukannya setiap hari adalah kunci mengalami hidup yang berkemenangan, diberkati, berhasil dan beruntung.

Firman Tuhan dipenuhi janji-janji Tuhan yang akan dinyatakan dalam kehidupan orang percaya. Ada pun janji Tuhan itu adalah ya dan amin. Salah satu janji Tuhan yang tertulis dalam firmanNya adalah: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7). Janji Tuhan tersebut cepat atau lambat pasti akan digenapi asalkan kita berjalan di jalur yang benar (sesuai dengan firmanNya). Dalam Yesaya 40:31 dikatakan, "...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."

Nasihat ini bukan sekedar untuk menghibur tetapi untuk kita praktekkan dalam kehidupan setiap hari. Namun untuk melakukannya dibutuhkan iman yang aktif, karena dalam masa penantian ini ada harga yang harus kita bayar: kesabaran, ketekunan, dan kesetiaan.

Sudahkah kita sabar, tekun dan setia mengerjakan bagian kita?

KARENA TUHAN, KITA SANGGUP

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup
Baca: Filipi 4:10-19
"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Filipi 4:13

Rasul Paulus telah memberikan teladan hidup yang luar biasa bukan hanya bagi orang-orang yang hidup sezamannya, tapi juga bagi kita yang hidup di masa-masa akhir zaman ini. Salah satu teladan hidup yang menonjol dalam diri Paulus adalah semangat hidupnya dalam melayani Tuhan. Ia tidak pernah menunjukkan sikap pesimis yang penuh keluh kesah, gerutuan ataupun kekecewaan meski dalam pelayanan ia harus menghadapi banyak sekali ujian, tantangan, aniaya dan juga penderitaan. Sebaliknya ia selalu optimis, memberikan kemenangan di dalam Tuhan sehingga ia selalu sanggup menasihati orang-orang agar mereka kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup dan tetap memiliki roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan. "...syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana." (2 Korintus 2:14).

Meski kehidupannya telah dipakai Tuhan secara luar biasa sebagai pemberita Injil dan menjadi kesaksian bagi banyak orang, tidak dengan serta-merta ia menjadi sombong atau membanggakan diri sendiri. "Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." (Galatia 6:14). Fokus Paulus adalah melakukan yang terbaik bagi Tuhan dan terus maju mengerjakan panggilan Tuhan apa pun keadaannya, bahkan ia terus "...berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:14).

Kekuatan, keuletan dan kegigihan yang dimiliki Paulus bukan karena ia tidak punya kelemahan atau kekurangan, itu semata-mata karena Roh Kudus yang bekerja di dalam dia. Dengan jujur ia mengakui penuh kelemahan dan kekurangan tapi ia tidak mau tenggelam dalam kelemahan yang ada. Justru dalam kelemahanlah ia percaya bahwa kuasa Tuhan makin sempurna dinyatakan. "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9).

"Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup...kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah." 2 Korintus 3:5

FIRMAN TUHAN: Tidak Pernah Kembali Sia-Sia

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: Yehezkiel 12:1-28

"Tidak satupun dari firman-Ku akan ditunda-tunda. Apa yang Kufirmankan akan terjadi, demikianlah firman Tuhan ALLAH." Yehezkiel 12:28

Rasul Paulus menegaskan bahwa Injil adalah "...kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya,... Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: 'Orang benar akan hidup oleh iman.'" (Roma 1:16-17). Injil adalah buah pikiran atau isi hati Tuhan sendiri. Di dalamnya terkandung hikmat Tuhan, janji Tuhan, rencana Tuhan, jalan Tuhan, tuntunan, bimbingan dan pedoman hidup bagi orang percaya. Dikatakan: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Seluruh jawaban dari permasalahan hidup yang dialami manusia ada di dalam firman Tuhan: mulai dari masalah yang sangat simple sampai kepada masalah yang palingcomplicated. Jadi tidak ada masalah yang tidak terselesaikan ketika kita menjadikan firman Tuhan sebagai pegangan hidup kita. Firman Tuhan adalah solusi terbaik.

Daud mengalami pengalaman luar biasa bersama Tuhan. Di setiap pergumulan yang dihadapi ia senantiasa berpegang teguh pada firman Tuhan. "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105). Akhirnya terbukti bahwa "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Serahkan semua permasalahan kepada Tuhan sebab Dia sama sekali tidak merasa terganggu. Abraham pun mengalami penggenapan janji Tuhan secara luar biasa, sekalipun janji itu tidak masuk akal. Tuhan berjanji bahwa keturunannya akan seperti bintang dan debu tanah banyaknya, padahal usia Abraham 100 tahun dan Sara 90 tahun ketika itu. Tetapi tiada yang mustahil bagi Tuhan, semua yang dijanjikanNya ditepati.

Nantikanlah janji Tuhan dengan setia, jangan terpengaruh situasi dan keadaan, karena apa yang difirmankan Tuhan tidak akan pernah kembali dengan sia-sia.

"Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." Ayub 42:2

BERDOA SECARA EFEKTIF

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: Yakobus 1:1-8

"Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin." Yakobus 1:6

Dalam hal berdoa kepada Tuhan diperlukan suatu ketegasan dan kepastian terhadap apa yang kita doakan. Sebagaimana disampaikan oleh Yakobus, jika seseorang bimbang atau ragu-ragu dalam berdoa, ia tidak akan menerima sesuatu apa pun dari Tuhan. Seringkali kita tidak tahu secara persis tentang apa yang sedang kita doakan. Kita berdoa hanya sekedarnya daripada tidak berdoa. Ada jenis doa yang berisikan pujian dan penyembahan kita kepada Tuhan, tetapi ada pula doa yang berisikan permohonan tentang apa yang kita perlukan dan ini membutuhkan jawaban dari Tuhan.

Doa yang tidak jelas isinya bisa digambarkan seperti seseorang yang pergi ke sebuah pasar swalayan dengan tujuan membeli barang-barang tertentu. Tidak mungkin kita hanya berkeliling atau berputar-putar menyusuri setiap lorong dengan troli barang tanpa membeli sesuatu apa pun. Hal ini juga berlaku pada doa. Adalah lebih baik kita berdoa secara singkat namun isi doa kita jelas dan kita tahu benar apa yang sedang kita doakan, daripada kita berdoa berjam-jam dengan bertele-tele tanpa suatu tujuan yang jelas dan pasti. Dikatakan, "Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." (Matius 6:7).

Bagaimana supaya doa kita kian efektif dan mampu menyentuh hati Tuhan? Kita harus terlebih dahulu tinggal di dalam firmanNya. Tuhan berkata, "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7). Semakin kita tinggal di dalam firmanNya semakin kita mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan di tengah situasi yang sedang kita hadapai. Akhirnya kita pun tidak asal-asalan dalam berdoa, melainkan selaras dengan apa yang dijanjikan Tuhan dalam firmanNya sehingga kita pun memiliki keyakinan yang kuat bahwa Tuhan akan menjawab doa kita dan memberikan apa yang sedang kita perlukan, tepat pada waktunya

DOA DALAM PENYERAHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: 1 Petrus 5:1-11

"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." 1 Petrus 5:7
Pernahkah doa-doa Saudara tidak beroleh jawaban dari Tuhan, padahal Saudara sudah berdoa sekian lama? Mungkin sering sekali. Banyak faktor yang menyebabkan doa-doa kita tak dijawab Tuhan, salah satunya adalah karena doa kita tidak seperti yang Tuhan kehendaki, yaitu berdoa dengan penuh penyerahan diri. Meski sudah berdoa tapi hati kita masih saja diliputi kekuatiran dan kebimbangan: "Apakah Tuhan sanggup menolongku, memulihkan keluargaku dan menyembuhkan sakitku?" Ini membuktikan bahwa kita tidak memiliki penyerahan penuh kepada Tuhan. Doa dalam penyerahan artinya menyerahkan semua permasalahan hidup kepada Tuhan, termasuk semua kekuatiran, keraguan, kegelisahan dan kebimbangan kepada Tuhan sepenuhnya. Tuhan tidak menghendaki kita terus diliputi perasaan-perasaan negatif. Ayub memiliki pengalaman akan hal ini: "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul." (Ayub 3:25-26).

Jadi kita harus segenap hati melepaskan semua masalah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Bila kita sungguh-sungguh menyerahkan semuanya kepada Tuhan, kita tidak perlu kuatir lagi karena segala beban tidak lagi berada di atas pundak kita, tetapi ada di tangan Tuhan. Sesunggunya kita tahu bahwa Tuhan itu berkuasa dan sanggup melakukan segala perkara, tetapi kita tidak memberiNya kesempatan untuk menyatakan kuasaNya. Kita membatasi Tuhan untuk bertindak padahal kita sudah membawa semua pergumulan melalui doa; namun ketika kita melangkah pergi kita mengambil kembali beban itu dan memikulnya di atas pundak kita. Jadi kita sendiri yang sebenarnya tidak mau melepaskan diri dari masalah tersebut. Tuhan Yesus tidak menghendaki kita terus diliputi oleh kekuatiran dan kegelisahan setiap hari.

Sudahkah kita benar-benar memiliki penyerahan diri kepada Tuhan, ataukah penyerahan kita kepadaNya hanya basa-basi saja?

"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;" Mazmur 37:5

ACUH DAN TAK BERGAIRAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: Zefanya 2:1-3

"Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh," Zefanya 2:1

Hari-hari ini 'penyakit' suam-suam kuku dan acuh tak acuh terhadap perkara-perkara rohani menyerang banyak orang. Yang menjadi salah satu faktor penyebabnya adalah tekanan ekonomi. Tidak bisa dipungkiri, tingginya biaya kebutuhan hidup membuat banyak orang dihantui rasa kuatir. Keadaan ini tidak hanya melanda orang-orang dunia tapi juga dialami oleh banyak anak Tuhan, padahal firman Tuhan tak henti-hentinya mengingatkan, "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?" (Matius 6:25). Kenyataannya kekuatiran timbul dalam hati dan pikiran kita. Hal ini tak ubahnya benih yang ditaburkan di tengah semak duri yaitu "...orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah." (Matius 13:22).

Rasa kuatir akan kebutuhan hidup (ekonomi) ini membuat kita tidak lagi punya gairah dan kerinduan mencari Tuhan. Hal ini juga dialami bangsa Israel sehingga Tuhan harus menegur mereka dengan keras melalui nabi Zefanya. Bangsa Israel cuek dan bersikap acuh tak acuh terhadap hal-hal rohani. Mereka tidak lagi bergairah mencari Tuhan, perkara-perkara rohani mereka kesampingkan. Kita pun sama, disibukkan dengan pekerjaan yang menyita hampir seluruh waktu kita. Dari pagi sampai malam yang ada di pikiran kita hanyalah bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, bagaimana supaya harta dan kekayaan kita makin berlimpah. 24 jam waktu yang diberikan Tuhan kita habiskan untuk mengejar perkara-perkara duniawi. Seminar-seminar kiat jitu menjadi kaya mendadak, menjadi miliarder tanpa modal dan sebagainya diserbu orang. Sementara untuk bersekutu dengan Tuhan dan mencari wajahNya kita sama sekali tidak punya gairah dan semangat sedikit pun. Akhirnya semua ibadah kita hanyalah sebatas rutinitas belaka.

Sampai kapan ini akan terjadi? Mari, selagi ada waktu dan kesempatan milikilah kesungguhan mencari Tuhan.
"Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." Roma 12:11

ORANG PERCAYA: Harus Percaya Diri

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: 1 Yohanes 4:1-6

"Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." 1 Yohanes 4:4

Perasaan minder, tidak percaya diri, mengasihani diri sendiri, putus asa dan gampang menyerah pada keadaan seringkali mewarnai perjalanan hidup orang percaya. Tidak seharusnya kita bersikap demikian! Sebab sesungguhnya orang-orang percaya di tengah dunia ini bukanlah orang-orang yang biasa; kita ini di atas rata-rata, bukan pecundang, melainkan pemenang.

Sejak awal kita diciptakan, Tuhan sudah memiliki rancangan yang luar biasa. "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26). Ini akan membangkitkan semangat kita menjalani hidup jika menyadari bahwa kita ini diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Tuhan pun menegaskan, "...Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Di dalam Roma 8:37 dikatakan: "...kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." Orang-orang yang berhasil dan para pemenang adalah orang-orang yang memiliki sikap percaya diri. Tanpa rasa percaya diri mustahil orang mampu meraih apa yang menjadi impian dalam hidupnya.

Jadi memiliki rasa percaya diri yang berarti memiliki rasa optimis dan senantiasa berpikiran positif adalah salah satu modal menggapai kesuksesan. Karena itu "...saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8). Dampak dari itu semua adalah membawa kita pada semangat untuk menjalani hidup ini dalam situasi apa pun.

Kita harus punya rasa percaya diri karena kita adalah istimewa di pemandangan Tuhan!

MENCARI TUHAN: Ada Kehidupan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup

Baca: Yesaya 55:1-13

"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" yesaya 55:6
Renungan kita hari ini menegur dan mengingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan waktu. Kesempatan yang ada mari kita gunakan untuk terus menerus mencari Tuhan. Mencari Tuhan adalah sebuah keputusan penting bagi orang percaya, terlebih saat kita berada dalam situasi-situasi yang sulit. Ketika jalan yang kita tempuh terbentur tembok yang tebal alias jalan buntu, sedangkan berbagai upaya telah kita lakukan dan kesemuanya berujung kepada kegagalan, tiada jalan lain selain kita harus datang kepada Tuhan dan mencari wajahNya. Mencari Tuhan berarti menyadari akan keterbatasan dan ketidakberdayaan kita, lalu dengan penuh kerendahan hati mencariNya. Mencari Tuhan juga berarti berharap dan mengandalkan Dia saja.

Mengapa kita harus mencari Tuhan? Karena Dia adalah sumber pertolongan sejati. Sementara segala hal yang ada di dunia ini tak bisa memberikan jawaban dan jaminan yang pasti bagi kita. Karena itu jangan sekali-kali kita menggantungkan harapan pada uang, kekayaan, jabatan, pengalaman, kepintaran atau kemampuan, semuanya adalah sia-sia. Gantungkan harapan sepenuhnya kepada Tuhan sebab Dia selalu punya jalan ajaib untuk menolong kita. Dia tidak pernah kehabisan cara melepaskan kita dari berbagai masalah. "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:9). Apa yang didapatkan bila bersungguh hati mencari Tuhan? "...kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali!" (Yesaya 55:9). Juga melalui nabi Amos Tuhan mengingatkan bangsa Israel agar mereka mencari Dia, "Carilah Aku, maka kamu akan hidup!" (Amos 5:4, 6a).

Perjalanan hidup bangsa Israel hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini. Ketika mereka mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh ada keamanan, perlindungan dan kemenangan. Namun, ketika mereka meninggalkan Tuhan, berkompromi dengan dosa dan mencari pertolongan kepada ilah lain, kekalahan demi kekalahan harus mereka alami.


"Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya Tuhan."